TARAKAN – Kondisi sarana belajar di SMK Negeri 4 Tarakan tengah menjadi perhatian publik setelah keluhan salah satu orang tua siswa viral di media sosial. Keterbatasan ruang kelas membuat pihak sekolah terpaksa memanfaatkan bangunan bekas gudang sebagai tempat proses belajar mengajar.
Bangunan gudang tersebut disekat menjadi 10 ruangan dengan bahan triplek, . Meski telah dilengkapi kipas angin, ruang masih terasa panas, dikarena belum ada plafon.
ditambah kondisi lantai yang belum dikeramik membuat ruangan cenderung berdebu dan pengap. Situasi tersebut memicu ketidaknyamanan siswa saat belajar.

Isu ini pun mendapat perhatian anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara daerah pemilihan Tarakan yang juga Ketua DPW Partai NasDem Kalimantan Utara, Supa’ad Hadianto, dalam wawancara bersama media, Senin (02/03/2026).
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltara, Syamsuddin Arfah, mengungkapkan pihaknya telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi.
“Kami sudah melihat langsung kondisi ruang belajar di SMK 4. Menurut kami, ruangan tersebut belum layak dijadikan ruang kelas. Plafon belum ada, dinding dan lantainya juga belum memadai. Kalau tidak salah, ada sekitar 10 kelas yang menggunakan fasilitas itu, sehingga terkesan seperti ruang darurat,” ujarnya.
Menurut Syamsuddin, kondisi tersebut jauh dari standar kelayakan sarana pendidikan. Ia menilai persoalan ini harus memiliki kejelasan perencanaan, mengingat SMK 4 termasuk sekolah dengan peminat cukup banyak dan memiliki jurusan spesifik seperti IT dan bidang keahlian lainnya.
“Sayang kalau lahannya tidak dimanfaatkan secara optimal. Kasihan juga para siswanya yang harus belajar dalam kondisi seperti itu,” katanya.
Komisi IV DPRD Kaltara, lanjutnya, mendorong agar pemerintah daerah dan DPRD duduk bersama membahas persoalan ini secara serius, baik melalui Komisi IV maupun gabungan beberapa komisi. Penganggaran pembangunan tiap tahun juga harus jelas agar ada komitmen yang terarah.
Sementara ini, catatan kekurangan yang ditemukan antara lain belum adanya plafon, kondisi dinding dan lantai yang belum layak, sehingga bangunan tampak seperti fasilitas sementara. Jika pembangunan menyeluruh harus menunggu satu hingga dua tahun, ia menyarankan minimal dilakukan perbaikan dasar.
“Kalau belum bisa dibangun total, paling tidak dipasang plafon yang layak dan dilakukan perbaikan dasar supaya lebih nyaman digunakan,” tegasnya.
Ia menambahkan, peninjauan kali ini baru difokuskan pada ruang kelas. Fasilitas pendukung lain seperti sarana penunjang dan sanitasi belum ditinjau secara menyeluruh dan akan menjadi perhatian selanjutnya.
“Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak belajar dalam kondisi yang tidak layak,” pungkasnya. (*)










Discussion about this post