TANJUNG SELOR – Awal tahun 2026 diwarnai tekanan inflasi yang berdampak pada sektor pertanian di Kalimantan Utara. BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Januari 2026 turun 0,34 persen menjadi 116,68.
Kepala BPS Provinsi Kalimantan Utara, Dr. Mustaqim SST., SE., M.Si., mengatakan penurunan NTP terjadi akibat menurunnya harga hasil pertanian yang diterima petani, sementara harga barang konsumsi dan biaya produksi meningkat.
“Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena berpengaruh langsung terhadap daya beli petani,” ujarnya.
Menurut data BPS, inflasi perdesaan tercermin dari kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga sebesar 0,11 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi.
Meski demikian, beberapa subsektor seperti peternakan dan perikanan masih menunjukkan tren positif, memberikan penopang bagi ekonomi petani secara keseluruhan.
BPS berharap sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dapat menjaga stabilitas harga, terutama menjelang periode peningkatan kebutuhan masyarakat. (*)












Discussion about this post