NAGOYA – Tim Boccia Indonesia mulai memanaskan persaingan menjelang Asian Para Games 2026. Lima atlet andalan Merah Putih menjajal Nagoya City General Gymnasium, Rabu (14/10/2026), untuk mematangkan kesiapan menghadapi pertandingan yang dimulai Jumat (16/10/2026).
Muhamad Afrizal Syafa, Handayani, Felix Ardi Yuda, Muhammad Bintang Satria, dan Gischa Zayana menjalani sesi latihan selama 120 menit di arena yang akan menjadi tempat mereka berjuang membawa nama Indonesia.
Latihan tersebut dimanfaatkan untuk mengulang materi yang telah dipersiapkan selama berada di Tanah Air. Setiap lemparan atlet mendapat koreksi langsung dari lima pelatih yang mendampingi mereka.
Selain mematangkan teknik, kesempatan menjajal venue juga dimanfaatkan untuk beradaptasi dengan lapangan pertandingan dan mengamati persiapan atlet dari negara pesaing.
Koordinator Pelatih Boccia Indonesia, Islahuzzaman Nur Yadin, mengatakan timnya datang dengan bekal hasil positif dari tiga kejuaraan sebelumnya. Dalam rangkaian uji coba tersebut, Indonesia berhasil menyapu bersih gelar juara umum.
Hasil itu menjadi modal kepercayaan diri bagi tim pelatih dan atlet untuk menghadapi persaingan di Nagoya.
“Targetnya masih sama satu emas seperti di Hangzhou (Asian Para Games 2022) kemarin. Mudah-mudahan dengan kami melihat persiapan selama try out selalu jadi juara umum, mudah-mudahan ini bisa mencapai target atau lebih dari yang diharapkan,” ujar Islah, Rabu (14/10/2026).
Nomor Tim Jadi Harapan Utama
Dari lima atlet yang dibawa ke Nagoya, Indonesia membagi kekuatan ke dalam dua kategori, yakni BC1 dan BC2.
Muhamad Afrizal Syafa dan Handayani akan bertanding di kategori BC1. Sementara Felix Ardi Yuda, Muhammad Bintang Satria, dan Gischa Zayana menjadi andalan pada kategori BC2.
Islah menjelaskan, nomor tim menjadi fokus utama dalam perburuan medali emas. Ia menilai kekuatan kolektif atlet Indonesia menjadi modal penting untuk menghadapi lawan-lawan dari negara Asia lainnya.
“Target emas kami di nomor tim, karena di tim kami memang kuat. Apalagi posisinya di Nagoya ini sistem pertandingannya masih sistem lama. Kalau seandainya sistemnya pakai sistem baru sudah yakinlah kami ambil,” katanya.
Meski nomor tim menjadi sasaran utama, Indonesia tetap membuka peluang dari pertandingan individu. Kategori BC1 putra dan putri dinilai memiliki kesempatan untuk menyumbangkan medali.
Afrizal dan Handayani diharapkan mampu memanfaatkan peluang tersebut. Namun, tim pelatih tetap memperhitungkan kekuatan pesaing, khususnya Thailand dan Hong Kong di kategori BC2.
“BC1 juga masih peluang. Putra-putri BC1 peluang banget, Afrizal sama Handayani. Kalau BC2 putra masih ada duo Thailand yang agak berat, dan BC2 putri ada wakil Hong Kong yang kemarin waktu terakhir try out kami kalah,” ungkap Islah.
Pemetaan kekuatan lawan menjadi bagian dari strategi untuk menentukan pendekatan pertandingan. Tim pelatih berharap seluruh atlet dapat mempertahankan performa terbaik sekaligus mengantisipasi tantangan dari para pesaing.
Handayani Siap Berjuang demi Podium
Optimisme juga datang dari Handayani. Atlet asal Banten tersebut mengaku siap menjalani pertandingan dan membidik podium terbaik pada Asian Para Games 2026.
Baginya, keberhasilan di arena tidak hanya ditentukan kemampuan menghadapi lawan. Pengendalian diri, ketenangan, dan konsentrasi juga menjadi faktor penting untuk menjaga akurasi setiap lemparan.
“Targetnya podium terbaik. Semoga emas, pokoknya podium dulu. Tantangan ada di diri sendiri. Harus bisa manajemen diri sendiri, yang penting ketenangan, fokus, dan strategi harus pas. Untuk lawan terberat sementara ini mungkin baru Singapura,” ujar Handayani.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persiapan mental menjadi perhatian selain latihan teknis. Handayani berharap dapat menjalankan strategi dengan baik dan memberikan kontribusi bagi Indonesia.
Di tengah persaingan yang ketat, ia berupaya menjaga fokus pada setiap pertandingan dan tidak membiarkan tekanan memengaruhi penampilannya.
Fokus Bertanding Tanpa Beban Berlebihan
Islah menegaskan, para atlet diminta menjalani pertandingan dengan fokus pada kemampuan masing-masing. Ia menyebut Asian Para Games 2026 tidak memengaruhi perebutan satu tempat di Paralimpiade Los Angeles 2028.
Karena itu, tim pelatih meminta para atlet berkonsentrasi pada latihan, menjalankan strategi, dan tampil maksimal demi Merah Putih.
“Kami tidak ada beban, dan kami juga targetkan pada anak-anak yang penting kamu latihan, main bagus karena demi bangsa dan negara,” tegasnya.
Setelah sesi latihan di venue, seluruh kontestan cabang olahraga boccia dijadwalkan mengikuti technical meeting pada Kamis (15/10/2026) siang. Pertemuan tersebut akan membahas sejumlah hal teknis, termasuk lawan yang akan dihadapi sejak hari pertama pertandingan.
Dengan modal hasil uji coba yang positif dan persiapan yang terus dimatangkan, Boccia Indonesia kini bersiap menghadapi tantangan sesungguhnya di Nagoya.
Target satu medali emas tetap menjadi sasaran utama. Namun, peluang dari nomor individu juga akan diperjuangkan agar Merah Putih dapat membawa pulang hasil terbaik dari Asian Para Games 2026.












Discussion about this post