TARAKAN — Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, tidak hanya menyisakan lahan terbakar. Batu bara yang berada di bawah permukaan tanah ikut terbakar dan memunculkan kepulan asap disertai bau menyengat.
Salah satu titik berada di Jalan Gunung Amal Lama, Kecamatan Tarakan Timur, Senin (24/8/2026). Kepulan asap terlihat keluar dari bawah tanah dan terus terbawa angin di sekitar kawasan tersebut.
Kondisi ini mengganggu pengguna jalan yang melintas. Asap disertai bau menyengat dirasakan membuat pernapasan tidak nyaman dan mata terasa pedih.
Lokasi titik asap juga berada sekitar 150 meter dari Universitas Borneo Tarakan (UBT). Kondisi tersebut menjadi perhatian karena apabila arah angin berubah, asap berpotensi bergerak menuju gedung-gedung kampus dan mengganggu kegiatan perkuliahan.
Kepala Keamanan UBT, Mustari, mengatakan kondisi asap cukup mengganggu aktivitas kampus. Namun, untuk sementara arah angin masih berlawanan sehingga dampaknya belum terlalu dirasakan di area gedung.
“Ini sangat mengganggu aktivitas. Lama-kelamaan ini bisa merusak jalan. Terutama pada saat angin berhembus dari sebelah sana, akan mengarah ke tiap-tiap gedung,” ujar Mustari.
Pihak kampus telah mengeluarkan surat edaran kepada mahasiswa agar menggunakan masker saat melakukan aktivitas di luar ruangan sebagai langkah antisipasi terhadap asap.
Selain mengganggu aktivitas, kondisi jalan di sekitar titik pembakaran juga menjadi perhatian. Pembakaran batu bara yang terjadi di bawah permukaan tanah dikhawatirkan membentuk rongga dan memengaruhi kestabilan badan jalan.
Jumaniah, warga yang melintas di kawasan tersebut, mengaku terganggu dengan bau yang muncul dari lokasi.
“Aromanya kayak bau karet. Mengganggu. Harapan ke depannya harus diperhatikan, karena takutnya ada apa-apa, sepertinya runtuh,” katanya.
BPBD Kota Tarakan mencatat terdapat tiga titik batu bara yang terbakar di Tarakan Timur. Satu titik berada di Jalan Gunung Amal Lama, sementara dua titik lainnya berada di Jalan Pantai Amal Lama yang lokasinya dekat dengan kawasan UBT.
Petugas telah memasang garis polisi sebagai pembatas agar pengguna jalan tidak mendekati titik panas dan asap.
BPBD juga melaporkan asap yang terbawa angin telah mencapai permukiman warga. Kondisi ini membuat pemantauan terhadap titik panas terus dilakukan untuk mencegah dampak yang lebih luas.
Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, mengatakan panjang area terdampak saat ini diperkirakan sekitar 30 hingga 40 meter.
Dua titik di Jalan Pantai Amal Lama menjadi perhatian khusus karena berpotensi menimbulkan rongga di bawah jalan utama menuju Pantai Amal.
“Panjangnya, dampaknya sementara ini berkisar sekitar 30 sampai 40 meter. Ada dua titik yang bisa mengakibatkan rongga di bawah jalan utama ke Pantai Amal,” jelas Yonsep.
Ia mengimbau masyarakat dan wisatawan yang melakukan aktivitas di kawasan Pantai Amal agar berhati-hati dan tidak mendekati sisi jalan yang terdapat titik panas.
Sebagai langkah pengamanan, kepolisian bersama Dinas Perhubungan Kota Tarakan berencana menutup total ruas jalan apabila kondisi di lapangan membutuhkan penanganan lebih lanjut oleh dinas teknis.
Sementara itu, data BPBD Tarakan mencatat sedikitnya 56 hektare lahan terbakar akibat karhutla. Lahan yang terdampak umumnya merupakan milik warga dan tersebar di Tarakan Utara, Tarakan Barat serta Tarakan Timur.
BPBD bersama petugas lainnya masih melakukan pemantauan di lapangan. Setiap titik api dan panas yang kembali muncul akan segera ditangani agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar dan membahayakan masyarakat. (*ma)









Discussion about this post