JAKARTA — Gempa bumi Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) dini hari. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera mengerahkan tim penanganan darurat untuk mempercepat kaji cepat dan penanganan dampak di wilayah terdampak.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D, mengatakan tim BNPB bergerak mendukung pemerintah daerah dalam menangani korban, mendata kerusakan, serta memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.
“BNPB langsung mengerahkan tim penanganan darurat untuk mendukung pemerintah daerah dalam melakukan kaji cepat, penanganan korban, pendataan dampak, serta pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak,” ujar Berton.
Gempa terjadi pukul 04.58.24 WIB dengan pusat gempa berada di laut, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer.
Guncangan dirasakan di sejumlah wilayah NTT, Nusa Tenggara Barat hingga Sulawesi Selatan. Gempa sempat memicu peringatan dini tsunami sehingga masyarakat di sejumlah kawasan pesisir melakukan evakuasi sebagai langkah kewaspadaan.
Kepala BNPB dan Menko PMK Turun ke Nagekeo
Penanganan di lapangan juga akan diperkuat dengan kehadiran Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno yang dijadwalkan menuju Kabupaten Nagekeo.
BNPB menyiapkan dukungan logistik dan peralatan untuk memperkuat operasi darurat.
Satu unit helikopter juga diarahkan untuk mendukung mobilisasi logistik dan operasional penanganan, termasuk kemungkinan evakuasi apabila diperlukan.
“Dukungan udara ini menjadi penting mengingat karakteristik wilayah NTT yang terdiri atas banyak pulau dan memiliki tantangan akses antardaerah,” kata Berton.
Satu Meninggal, Empat Luka
Berdasarkan pemutakhiran dan validasi data hingga pukul 08.00 WIB, tercatat satu orang meninggal dunia dan empat orang mengalami luka-luka.
Korban meninggal dunia merupakan warga Kabupaten Sikka. Sementara korban luka tercatat di Kabupaten Sikka dan Kabupaten Nagekeo.
BNPB sebelumnya menerima laporan awal dua korban meninggal dunia. Namun, setelah dilakukan verifikasi dan validasi di lapangan, jumlah tersebut diperbarui menjadi satu korban meninggal dunia.
Proses pendataan korban dan dampak lainnya masih terus dilakukan oleh BPBD bersama unsur terkait.
Di Kabupaten Nagekeo, sekitar 2.000 warga melakukan evakuasi mandiri setelah gempa dan adanya peringatan dini tsunami.
Sementara di Kota Bima, tercatat satu kepala keluarga atau enam jiwa terdampak.
Kerusakan Sejumlah Bangunan
Dampak sementara yang telah teridentifikasi meliputi dua unit rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dan dua rumah rusak ringan.
Selain itu, satu gudang Bulog terdampak, tiga fasilitas umum mengalami kerusakan ringan, serta enam kantor pemerintahan terdampak.
BNPB menegaskan seluruh data tersebut masih bersifat sementara dan terus diverifikasi.
Guncangan dirasakan di Kabupaten Nagekeo, Sikka dan Manggarai Barat di NTT; Kota Bima dan Kabupaten Bima di NTB; serta Jeneponto, Kepulauan Selayar dan Maros di Sulawesi Selatan.
Tsunami Berakhir
Hasil observasi tinggi muka laut menunjukkan tidak terdapat lagi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan. Peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 07.31.30 WIB.
Meski demikian, BNPB meminta masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Masyarakat juga diminta tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa serta mengikuti arahan pemerintah daerah.
Berton mengingatkan masyarakat agar mendapatkan informasi dari sumber resmi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Di Kabupaten Nagekeo, petugas masih melakukan penanganan dan pendataan. Jalan dilaporkan mengalami kemacetan, sementara aliran listrik masih padam.
BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD Provinsi NTT, BPBD kabupaten/kota terdampak, BMKG, Basarnas, TNI, Polri, kementerian/lembaga dan unsur terkait untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan terpadu.
“Dukungan pemerintah pusat akan terus diberikan sesuai perkembangan kebutuhan di lapangan, terutama dalam penanganan korban, evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, dukungan logistik dan peralatan, serta percepatan pemulihan masyarakat terdampak,” pungkas Berton. (*)










Discussion about this post