TARAKAN – Lautan manusia memenuhi area Pesantren Tahfiz Darul Quran Kota Tarakan, Senin (2/3/2026), dalam gelaran Tabligh Ramadan yang menghadirkan dai nasional Hanan Attaki. Sekitar 2.000 jemaah, mayoritas anak muda, larut dalam tausiah yang disampaikan dengan gaya ringan, reflektif, dan menyentuh realitas kehidupan sehari-hari.
Dalam ceramahnya, Ustadz Hanan mengangkat tema tentang kebiasaan “caper” atau mencari perhatian kepada manusia, yang menurutnya kini semakin masif di era digital. Ia menilai banyak orang tanpa sadar menggantungkan kebahagiaan pada respons orang lain.
“Kita ini sering sibuk terlihat baik di mata manusia. Kita unggah ini, pamer itu, berharap dipuji, diakui. Padahal semakin kita berharap pada manusia, semakin mudah kita kecewa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sifat manusia yang mudah lupa dan cenderung lebih fokus pada kesalahan membuat ketergantungan pada validasi sosial menjadi sumber luka batin.
“Satu kesalahan bisa diingat bertahun-tahun, tapi banyak kebaikan sering terhapus begitu saja. Itu sifat manusia. Maka jangan taruh harga diri kita di tangan mereka,” katanya.
Menurut Ustadz Hanan, Ramadan 1447 Hijriah adalah waktu terbaik untuk mengubah orientasi hidup. Jika selama ini energi dihabiskan untuk mencari perhatian manusia, kini saatnya mengalihkan fokus hanya kepada Allah SWT.
“Kalau caper ke manusia, kita harus tampil, harus dilihat, harus diakui. Tapi kalau caper ke Allah, cukup ibadah yang tulus. Bangun malam, berdoa, bersedekah diam-diam. Tidak perlu ada yang tahu,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perhatian Allah berbeda dengan perhatian manusia. Allah tidak pernah meremehkan amal sekecil apa pun dan tidak pernah mengabaikan doa hamba-Nya.
“Allah tidak pernah lupa satu kebaikan kita. Bahkan niat baik pun sudah dicatat sebagai pahala. Jadi kenapa kita lebih sibuk mengejar yang terbatas, daripada yang Maha Membalas?” tegasnya.
Di penghujung tausiah, ia mengajak seluruh jemaah menjadikan Ramadan sebagai titik balik perubahan diri.
“Kalau Allah sudah ridha, kita tidak lagi butuh validasi manusia. Mari jadikan Ramadan ini momen memperbaiki hati dan arah hidup,” pungkasnya.
Tabligh Ramadan tersebut tak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang refleksi bagi masyarakat Tarakan untuk menata ulang prioritas hidup dan memperkuat hubungan spiritual di bulan penuh berkah. (*)











Discussion about this post