MALINAU – Kabupaten Malinau kembali membuktikan diri sebagai salah satu daerah dengan potensi seni vokal gerejawi yang diperhitungkan di Kalimantan Utara. Pada ajang Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026 di Manokwari, Papua Barat, dua penyanyi solo asal Malinau sukses mempersembahkan prestasi membanggakan bagi Kontingen Kalimantan Utara.
Adalah Abraham Sanubari yang tampil gemilang dengan meraih medali emas pada kategori Solo Remaja Pemuda Putra (SRPP). Sementara rekannya, Susilis Roliawanti, berhasil mempersembahkan medali perak pada kategori Solo Remaja Pemuda Putri (SRPI).

Raihan keduanya menjadi bagian penting dari keberhasilan Kontingen Kalimantan Utara yang menutup Pesparawi Nasional XIV dengan torehan tiga medali emas dan empat medali perak, melampaui target yang ditetapkan sebelum keberangkatan.
Pelatih kategori solo Kabupaten Malinau, Casna, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil dari latihan yang intensif, disiplin, dan komitmen tinggi para peserta selama masa persiapan.
“Kami melihat Kalimantan Utara memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan seni vokal, musik, dan paduan suara gerejawi. Karena itu, kami di LPPD terus berupaya mencari dan membina anak-anak yang memiliki talenta agar mampu bersaing di tingkat nasional,” katanya.
Menurut Casna, Abraham dan Susilis menjalani latihan hampir setiap hari selama kurang lebih tiga pekan. Dalam kurun waktu tersebut, keduanya mengikuti lebih dari 15 sesi latihan untuk mematangkan teknik vokal, interpretasi lagu, hingga penguasaan panggung.
Namun proses menuju panggung nasional tidak berjalan tanpa hambatan. Salah satu tantangan terbesar adalah keterbatasan fasilitas latihan, terutama belum tersedianya pianis pendamping selama masa persiapan di Kalimantan Utara.
“Latihan bersama pianis baru bisa kami lakukan setelah tiba di Manokwari. Meski begitu, Puji Tuhan, pengalaman mereka mengikuti berbagai kompetisi sebelumnya, termasuk di ICC Malinau, sangat membantu saat tampil di Pesparawi Nasional,” ungkapnya.
Casna menilai kedua peserta memiliki karakter yang berbeda. Susilis merupakan pendatang baru di ajang Pesparawi Nasional dan tidak berasal dari latar belakang penyanyi klasik. Meski demikian, semangat belajarnya yang tinggi mampu mengantarkannya meraih medali perak.
“Ini pengalaman pertama Susilis di tingkat nasional. Dia memang sempat gugup, tetapi memiliki kemauan belajar yang luar biasa sehingga mampu berkembang dengan cepat,” ujarnya.
Sementara Abraham dinilai telah memiliki kualitas vokal yang matang. Meski demikian, menurut Casna, tantangan terbesar tetap terletak pada pengendalian mental ketika tampil di hadapan dewan juri.
“Abraham adalah salah satu penyanyi andalan saya. Kualitas vokalnya sudah sangat baik, tetapi mental bertanding tetap harus terus diasah. Syukur, dia mampu mengendalikan tekanan dan mempersembahkan medali emas untuk Kalimantan Utara,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pembinaan penyanyi solo tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan bernyanyi, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, serta kesiapan mental.
Ke depan, Casna berharap proses persiapan kontingen dilakukan jauh lebih awal agar hasil yang diraih semakin maksimal.
“Idealnya latihan dimulai minimal enam bulan sebelum perlombaan. Saya juga berharap Kalimantan Utara dapat mengirim peserta di seluruh kategori. Saya yakin Kaltara mampu bersaing di level tertinggi apabila didukung sistem pembinaan yang lebih baik, pelatih yang memadai, dan regenerasi penyanyi yang terus berjalan,” tuturnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada LPPD Kalimantan Utara dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara yang telah memberikan dukungan penuh kepada seluruh kontingen selama mengikuti Pesparawi Nasional XIV.
“Terima kasih kepada LPPD Provinsi dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara atas dukungan yang diberikan. Semoga ke depan pembinaan semakin baik dan Kalimantan Utara dapat meraih prestasi yang lebih besar, bahkan menjadi juara umum di Pesparawi Nasional,” pungkasnya. (*)












Discussion about this post