MALINAU – Asap kiriman dari sejumlah wilayah di Kalimantan Timur dan kawasan sekitar Kalimantan Utara mulai berdampak terhadap konektivitas udara di Kabupaten Malinau.
Kondisi tersebut membuat jarak pandang di Bandara RA Besing Malinau menurun. Sejumlah penerbangan pun terdampak, termasuk penerbangan Wings Air yang dibatalkan dan penerbangan Malinau–Long Pujungan yang harus kembali ke bandara.
Kepala Bandara RA Besing Kabupaten Malinau, Handoko, mengatakan kondisi visibilitas menjadi faktor utama terganggunya operasional penerbangan pada Selasa (1/9/2026).
“Untuk saat ini terdapat penerbangan cancel yaitu Wings Air karena visibilitas rendah di Bandara Malinau,” kata Handoko.

Selain penerbangan Wings Air yang batal, terdapat pula penerbangan rute Malinau–Long Pujungan yang harus melakukan return to base atau kembali ke bandara.
Menurut Handoko, asap yang memengaruhi wilayah Malinau tidak hanya berasal dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah sekitar Malinau. Asap juga diduga merupakan kiriman dari Kalimantan Timur dan wilayah lain di sekitar Kalimantan Utara.
Kondisi ini menjadi perhatian karena asap dapat menurunkan jarak pandang dan mengganggu visibilitas pilot. Dalam kondisi visibilitas rendah, operasional penerbangan harus mempertimbangkan aspek keselamatan.
“Dampak karhutla sangat berpengaruh terhadap penerbangan. Hal ini menjadi potensi terjadinya pandangan yang kurang yang dapat mengganggu visibilitas dari pilot,” ujarnya.
Handoko berharap penanganan kebakaran hutan dan lahan dapat segera dilakukan, termasuk terhadap titik-titik api yang berada di luar Kabupaten Malinau tetapi berpotensi mengirimkan asap ke wilayah tersebut.
“Kami berharap karhutla ini segera berakhir dan titik-titik api yang ada di sekitar Kabupaten Malinau maupun berada di luar Kabupaten Malinau segera ditindaklanjuti atau dipadamkan,” katanya.
Ia berharap kondisi udara dan jarak pandang segera membaik sehingga aktivitas penerbangan dari dan menuju Malinau dapat kembali beroperasi secara normal.
Gangguan penerbangan akibat asap ini sekaligus menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan dari sisi kualitas udara, tetapi juga dapat menghambat mobilitas masyarakat melalui jalur transportasi udara. (*)












Discussion about this post