TARAKAN – Badan Pusat Statistik Kota Tarakan mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 3,81 persen pada Maret 2026. Angka tersebut berdasarkan rilis resmi BPS dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 109,15.
Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi, menjelaskan bahwa inflasi terjadi akibat kenaikan harga di sejumlah kelompok pengeluaran utama masyarakat.
“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa kelompok pengeluaran, seperti makanan, perumahan, kesehatan, transportasi hingga perawatan pribadi,” ujarnya dalam rilis resmi, Rabu (1/4/2026).
Secara rinci, kelompok yang mengalami kenaikan indeks antara lain makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,73 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 6,86 persen, serta kesehatan yang cukup tinggi mencapai 12,26 persen. Selain itu, kelompok transportasi naik 1,53 persen dan perawatan pribadi serta jasa lainnya melonjak hingga 16,72 persen.
Sementara itu, beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan indeks atau deflasi, seperti pakaian dan alas kaki sebesar 0,45 persen, perlengkapan rumah tangga 0,03 persen, serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,42 persen.
Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,63 persen dan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) sebesar 1,06 persen.
Umar Riyadi menambahkan, sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi di Tarakan. Di antaranya emas perhiasan, tarif listrik, tarif rumah sakit, beras, daging ayam ras, hingga angkutan udara.
“Komoditas seperti emas perhiasan, tarif listrik, serta tarif rumah sakit memberikan andil cukup besar terhadap inflasi tahunan di Kota Tarakan,” jelasnya.
Di sisi lain, beberapa komoditas turut menahan laju inflasi atau menyumbang deflasi, seperti cabai, sayuran hijau, hingga angkutan laut.
BPS menilai, secara umum perkembangan harga di Kota Tarakan masih dalam kondisi terkendali, meskipun terdapat tekanan pada beberapa sektor tertentu, terutama kebutuhan rumah tangga dan layanan kesehatan.
Ke depan, BPS mengimbau masyarakat untuk tetap bijak dalam berbelanja serta mencermati pergerakan harga, terutama pada komoditas yang bergejolak, guna menjaga stabilitas pengeluaran rumah tangga.(*)











Discussion about this post