NUNUKAN – Di era media sosial, sebuah akun anonim dapat memicu kegaduhan hanya dalam hitungan menit. Namun di Nunukan, respons yang dipilih bukan kepanikan, melainkan upaya menjaga ketenangan agar hubungan baik antarmasyarakat tetap terpelihara.
Sejak munculnya akun Facebook yang diduga menyebarkan ujaran kebencian terhadap salah satu suku di Kalimantan Utara pada Selasa (4/8/2026), Polres Nunukan bergerak melakukan penyelidikan. Bersamaan dengan itu, langkah-langkah pencegahan juga dilakukan agar isu tersebut tidak berkembang menjadi keresahan yang lebih luas.
Kapolres Nunukan AKBP Ruslaeni, S.H., S.I.K., M.H. mengatakan, hasil penyelidikan sementara menunjukkan akun yang digunakan untuk menyebarkan konten tersebut diduga merupakan akun palsu yang menggunakan identitas berupa foto milik orang lain.
“Dari hasil penyelidikan sementara, akun Facebook tersebut merupakan akun fake dengan menggunakan foto orang lain,” ungkap Ruslaeni saat dikonfirmasi media, Kamis (6/8/2026).
Ia juga membenarkan bahwa akun tersebut menggunakan nomor dari provider luar negeri, sehingga membutuhkan proses pendalaman lebih lanjut untuk mengungkap pihak yang berada di baliknya.
Meski proses penyelidikan terus berjalan, perhatian Polres Nunukan tidak hanya tertuju pada pencarian pelaku. Menurut Ruslaeni, menjaga suasana tetap kondusif sama pentingnya agar masyarakat tidak terjebak dalam provokasi yang sengaja diciptakan melalui media sosial.
Karena itu, seluruh jajaran Polsek di Kabupaten Nunukan diperintahkan turun langsung ke tengah masyarakat. Mereka menemui tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga warga di berbagai wilayah untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya menyaring informasi sebelum mempercayai maupun membagikannya.
“Saya memerintahkan seluruh Polsek jajaran mendatangi tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan masyarakat agar tidak terpancing isu-isu yang ingin memecah belah. Kami juga terus mengingatkan masyarakat agar tidak ikut menyebarkan berita hoaks yang beredar di media sosial,” jelasnya.
Ruslaeni menilai, keberhasilan menjaga keamanan bukan hanya diukur dari terungkapnya pelaku, tetapi juga dari kemampuan seluruh elemen masyarakat menjaga persaudaraan di tengah derasnya arus informasi digital.
Ia mengingatkan bahwa tidak semua informasi yang viral adalah fakta. Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah terpengaruh oleh akun-akun yang identitasnya belum jelas, terlebih jika isi unggahannya berpotensi memecah belah kehidupan bermasyarakat.
“Jangan sampai kita kehilangan rasa saling percaya hanya karena ulah pihak yang sengaja membuat provokasi. Mari tetap tenang, bijak menggunakan media sosial, dan percayakan proses hukumnya kepada kepolisian,” pesannya.
Ruslaeni memastikan penyelidikan terhadap pelaku di balik akun tersebut akan terus dilakukan hingga identitasnya terungkap. Di saat yang sama, ia berharap masyarakat tetap menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan dengan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Sebab bagi Nunukan, keamanan bukan hanya tentang menindak pelaku, tetapi juga tentang menjaga persaudaraan yang telah lama menjadi kekuatan masyarakat di wilayah perbatasan.(*)









Discussion about this post