NUNUKAN – Semangat keberagaman dan kreativitas mewarnai penampilan SD Negeri 003 Nunukan Selatan dalam Pawai Budaya memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan.
Sebanyak 229 murid bersama 38 guru ambil bagian dalam kegiatan tersebut dengan menampilkan beragam pakaian adat Nusantara, pertunjukan seni tradisional, hingga kreasi busana berbahan daur ulang.
Mengutip laman resmi Pemerintah Kabupaten Nunukan, SDN 003 Nunukan Selatan mendapat nomor urut peserta 019. Kehadiran para murid menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus menanamkan nilai persatuan di tengah keberagaman.
Beragam pakaian adat yang dikenakan mencerminkan kekayaan budaya dari sejumlah daerah, mulai dari budaya Tidung, Dayak, Bugis, Toraja hingga Jawa. Perbedaan busana tersebut menyatu dalam satu barisan yang membawa pesan kebersamaan dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Kreativitas para murid juga terlihat melalui penggunaan bahan daur ulang untuk membuat kostum dan aksesori. Barang-barang yang sebelumnya dianggap tidak terpakai diolah menjadi bagian dari penampilan, sehingga menghadirkan pesan mengenai pentingnya kepedulian terhadap lingkungan sejak usia sekolah.
Salah satu kreasi yang menarik perhatian adalah miniatur peta Kabupaten Nunukan yang dibuat menggunakan bubur kertas. Karya tersebut dikerjakan secara manual selama empat hari, memperlihatkan keterlibatan dan kreativitas dalam mempersiapkan penampilan untuk pawai budaya.
Tidak hanya menampilkan pakaian adat, rombongan SDN 003 Nunukan Selatan turut menyuguhkan pertunjukan seni tradisional. Penampilan musik dan lagu Bebilin, tarian bernuansa Dayak, serta tari kipas menjadi bagian dari upaya mengenalkan seni budaya kepada masyarakat.
Partisipasi sekolah ini mengangkat tema “Kreatif Berkarya, Nunukan Maju”. Tema tersebut diwujudkan melalui perpaduan kreativitas, pendidikan budaya, dan pemanfaatan bahan sederhana menjadi karya yang memiliki nilai seni.
Melalui pawai budaya, para murid tidak hanya memperoleh pengalaman tampil di ruang publik, tetapi juga kesempatan mengenal keberagaman budaya yang tumbuh di Kabupaten Nunukan dan Indonesia secara lebih luas.
Keterlibatan guru dalam mendampingi para murid turut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Persiapan kostum, pembuatan aksesori, hingga latihan pertunjukan menjadi ruang bagi peserta didik untuk belajar bekerja sama, berkreasi, dan menghargai perbedaan.
Pawai budaya dalam rangka HUT ke-27 Kabupaten Nunukan pun menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Melalui karya dan penampilan para murid, nilai keberagaman diharapkan terus tumbuh sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Nunukan.











Discussion about this post