TARAKAN – Air mata haru dan senyum bangga menyatu dalam prosesi Wisuda Tahfidz Al-Qur’an ke-X Sekolah Islam Terpadu (SIT) Ulul Albab Tarakan yang digelar di Tarakan Plaza, Sabtu (18/4/2026). Sebanyak 291 santri menuntaskan capaian hafalan mereka, menjadi langkah awal menuju generasi Qurani yang tidak hanya hafal, tetapi juga berakhlak.
Mengusung tema “Menghafal dengan Hati, Mengamalkan dengan Akhlak”, kegiatan ini berlangsung khidmat dan penuh makna. Satu per satu santri naik ke panggung, disambut tepuk tangan dan rasa bangga dari orang tua yang menyaksikan langsung perjuangan anak-anak mereka.

Wakil Wali Kota Tarakan, Ibnu Saud Is, yang hadir dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa Al-Qur’an harus menjadi pedoman hidup, bukan sekadar hafalan.
“Al-Qur’an harus menjadi jangkar yang kuat dalam menghadapi berbagai kondisi dan gejolak kehidupan,” ujarnya.
Ia juga menilai, para penghafal Al-Qur’an memiliki potensi besar untuk berkembang di berbagai bidang, karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mampu membentuk karakter yang kuat dan disiplin.
Sementara itu, Ketua Pembina SIT Ulul Albab Tarakan, Syamsuddin Arfah, menyampaikan bahwa wisuda tahfidz bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin anak-anak ini tumbuh menjadi generasi Qurani yang tidak hanya hafal, tetapi juga berakhlak, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap langkah kehidupan mereka,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dan guru dalam proses panjang pembinaan para santri hingga mencapai tahap ini.
“Keberhasilan ini adalah hasil kebersamaan. Ada doa orang tua, kesabaran guru, dan kerja keras anak-anak yang luar biasa,” tambahnya.
Suasana haru pun terasa saat beberapa orang tua tak mampu menyembunyikan rasa bangga melihat anak mereka berdiri sebagai penghafal Al-Qur’an. Momen ini menjadi bukti bahwa pendidikan berbasis nilai mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter.
Wisuda Tahfidz ini menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia adalah penanda lahirnya harapan—bahwa dari Tarakan, akan terus tumbuh generasi Qurani yang membawa nilai kebaikan, kedamaian, dan akhlak mulia bagi masyarakat. (*)












Discussion about this post