TANJUNG SELOR – Tekanan inflasi di Provinsi Kalimantan Utara mulai menunjukkan tren yang lebih terkendali. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) pada Mei 2026 sebesar 2,90 persen, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,12 persen.
Kepala BPS Provinsi Kalimantan Utara, Dr. Mustaqim, SST., SE., M.Si., mengatakan perkembangan tersebut mengindikasikan stabilitas harga di daerah mulai membaik meskipun beberapa komoditas strategis masih memberikan tekanan terhadap Indeks Harga Konsumen (IHK).
“Pada Mei 2026 inflasi y-on-y Provinsi Kalimantan Utara tercatat sebesar 2,90 persen dengan IHK 110,00. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Selor sebesar 3,97 persen, sedangkan yang terendah di Kabupaten Nunukan sebesar 2,03 persen,” ujar Mustaqim dalam rilis resmi BPS, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, tekanan inflasi masih bersumber dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang meningkat 9,53 persen, disusul kelompok kesehatan sebesar 7,84 persen serta transportasi sebesar 4,51 persen. Di sisi lain, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan harga atau deflasi sebesar 0,01 persen.
Mustaqim menuturkan, secara bulanan Kalimantan Utara mengalami inflasi 0,27 persen, sedangkan inflasi tahun kalender hingga Mei mencapai 1,44 persen. Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan harga masih terjadi, namun tidak sekuat pada awal tahun sehingga memberikan ruang bagi stabilitas ekonomi daerah untuk terus terjaga.
BPS juga mencatat emas perhiasan masih menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan. Selain itu, kenaikan tarif angkutan udara, tarif air minum PAM, beras, tarif rumah sakit, tomat, minyak goreng, hingga berbagai komoditas makanan siap saji ikut mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Sebaliknya, penurunan harga sejumlah komoditas pangan seperti ikan layang, cabai rawit, bawang putih, kangkung, bayam, dan cabai merah membantu menahan laju inflasi sehingga tidak meningkat lebih tinggi.
Secara spasial, Tanjung Selor masih menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi di Kalimantan Utara sebesar 3,97 persen. Kota Tarakan mencatat inflasi 3,08 persen, sementara Kabupaten Nunukan menjadi daerah dengan inflasi terendah sebesar 2,03 persen.
Menurut Mustaqim, perkembangan tersebut menjadi indikator bahwa pengendalian harga mulai berjalan efektif. Meski demikian, pemerintah daerah tetap perlu mewaspadai gejolak harga pada komoditas pangan dan biaya transportasi yang selama ini menjadi faktor dominan pembentuk inflasi di Kalimantan Utara. (*)










Discussion about this post