PEKANBARU – Ancaman kebakaran hutan dan lahan tidak pernah benar-benar jauh dari Riau. Ketika musim kemarau datang, tanah mengering dan suhu meningkat, kekhawatiran akan munculnya titik-titik api kembali menyertai masyarakat.
Karhutla bukan sekadar persoalan memadamkan api. Di baliknya ada lingkungan yang harus dijaga, lahan gambut yang perlu tetap basah, serta masyarakat yang diharapkan menjadi garda terdepan dalam mencegah api muncul.
Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam Seminar Lingkungan yang digelar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) di Auditorium Universitas Islam Riau (UIR), Kamis (5/11/2026).
Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Dasrul Chaniago, mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi sejak jauh sebelum musim kebakaran berlangsung.
Namun, cuaca ekstrem menjadi tantangan yang tidak mudah dihadapi.
“Musim kemarau yang lebih kering, suhu tinggi, kelembapan rendah dan angin kencang membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan api lebih cepat menyebar,” ujar Dasrul.
Kondisi tersebut membuat pencegahan harus dilakukan lebih awal. Sebab ketika api sudah membesar, upaya penanganan akan menjadi jauh lebih berat.
Dasrul juga mengingatkan bahwa aktivitas manusia masih menjadi salah satu persoalan utama. Pembakaran lahan, baik yang dilakukan dengan sengaja maupun akibat kelalaian, dapat menjadi awal dari bencana yang lebih besar.
“Kalau sumber api dan perilaku pembukaan lahan tidak berubah, kebakaran akan terus berulang,” katanya.
Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Program Desa Peduli Api diharapkan dapat memperkuat kesadaran warga untuk menjaga lingkungannya dan mencegah kebakaran sejak awal.
Menjaga Gambut Tetap Basah
Peneliti Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Riau, Dr. Prayoto, menyebut karakteristik lahan gambut menjadi salah satu tantangan besar bagi Riau.
Sekitar 91,6 persen kejadian kebakaran lahan di wilayah tersebut terjadi di kawasan gambut. Ketika gambut kehilangan air, lahan menjadi mudah terbakar. Api bahkan dapat bergerak di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan.
Karena itu, menjaga tata air dan memulihkan ekosistem gambut menjadi pekerjaan yang harus dilakukan secara berkelanjutan.
“Menjaga lahan gambut dengan tata kelola air yang baik, pemulihan ekosistem, serta mencegah penyebab kebakaran menjadi sebuah keharusan agar kebakaran hutan dan lahan dapat diminimalisir,” ujar Prayoto.
Mencegah Api Bersama-sama
Sementara itu, akademisi Universitas Islam Riau, Dr. Sri Wahyuni Kadir Abbas, menilai teknologi dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat pencegahan.
Sistem peringatan dini perlu terus dikembangkan agar potensi kebakaran dapat diketahui lebih cepat dan respons dapat segera dilakukan sebelum api meluas.
“Lewat pendekatan teknologi, perlu dibangun respons cepat dalam menangani ancaman karhutla,” katanya.
Namun, menjaga Riau dari ancaman api tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, media, dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan perlu berjalan bersama.
Kolaborasi menjadi harapan untuk memutus siklus kebakaran yang terus berulang.
Sebab, menjaga hutan dan lahan dari api sesungguhnya dimulai jauh sebelum asap terlihat di langit. Dimulai dari kepedulian terhadap lingkungan, menjaga gambut tetap basah, menghindari pembakaran dan saling mengingatkan.
Dengan kerja bersama dan pencegahan yang berkelanjutan, Riau diharapkan tidak lagi hanya sibuk melawan api, tetapi mampu mencegahnya sebelum kebakaran kembali terjadi.










Discussion about this post