SOLO – Di bawah naungan Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran, dua perjalanan akhirnya dipertemukan dalam satu langkah. G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas menjalani prosesi Panggih Dhaup Ageng Mangkunegaran, Jumat (6/11/2026).
Pertemuan kedua temanten menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Dhaup Ageng Mangkunegaran. Lebih dari sekadar ritual adat, setiap tahapan membawa pesan tentang bagaimana sebuah kehidupan bersama dimulai dengan penerimaan, restu keluarga, kerukunan, dan tanggung jawab.
Rangkaian prosesi diawali dari tempat yang berbeda. Gusti Sura dibimbing dari Panti Busana menuju Ndalem Ageng, sementara Kanjeng Dimas menjalani serah terima di Bangsal Tosan sebelum melangkah menuju Pendapa Ageng.
Kehadiran Kanjeng Dimas didahului dengan Pisang Sanggan, sebagai tanda kesungguhan pihak calon temanten pria dalam memasuki kehidupan pernikahan. Prosesi tersebut membawa doa bagi keluhuran budi, kesucian niat, kerukunan, serta keteguhan ikatan kedua mempelai.
Atas perkenan S.I.J. K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X, Gusti Sura dan Kanjeng Dimas kemudian kapanggihaken atau dipertemukan secara adat.
Momen itu menjadi inti dari Panggih, ketika dua perjalanan yang sebelumnya ditempuh secara terpisah akhirnya bertemu untuk memulai kehidupan baru.
Juru Bicara Dhaup Ageng Mangkunegaran, K.P.H. Tjuk Susilo, M.P.A., mengatakan setiap tahapan dalam Panggih membawa doa dan harapan bagi kehidupan kedua temanten.
“Setiap tahap dalam Panggih membawa doa dan harapan. Nilai utamanya adalah penerimaan keluarga, kerukunan, tanggung jawab, serta kesediaan kedua temanten untuk menjalani kehidupan bersama,” ujarnya.
Setelah pertemuan, kedua temanten menjalani prosesi Balangan Gantal dengan saling melempar gulungan daun sirih yang diikat benang. Ritual tersebut menjadi simbol keterikatan dan kesiapan keduanya dalam menghadapi berbagai pengalaman kehidupan rumah tangga.
Restu keluarga kemudian hadir melalui prosesi Sinduran dan Bobot Timbang. G.K.P. Mangkoenagoro IX menuntun kedua temanten menuju pelaminan menggunakan kain sindur, sebagai gambaran peran orang tua yang mengantar anak-anaknya memasuki kehidupan baru.
Melalui Bobot Timbang, tersampaikan pula pesan bahwa kedua temanten mendapat tempat yang setara dalam kasih sayang dan penerimaan keluarga.
“Kedua temanten diterima dengan kasih sayang yang sama. Mereka tidak lagi berdiri sebagai dua pihak yang terpisah, tetapi menjadi bagian dari satu keluarga yang akan saling menjaga,” jelas Kanjeng Tjuk.
Pesan tentang kehidupan bersama berlanjut dalam prosesi Ngunjuk Degan, Kacar-Kucur, hingga Dhahar Klimah.
Kacar-Kucur menghadirkan hasil bumi dan uang sebagai lambang amanah serta tanggung jawab dalam membangun kehidupan rumah tangga. Sementara melalui Dhahar Klimah, kedua temanten berbagi hidangan sebagai simbol kesediaan untuk berbagi suka, duka, dan rezeki.
Panggih Dhaup Ageng Mangkunegaran menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu. Di balik tata cara yang dijalankan, terdapat tuntunan tentang kehidupan yang tetap relevan hingga kini.
Bagi Gusti Sura dan Kanjeng Dimas, pertemuan di Pendapa Ageng itu menjadi awal perjalanan baru. Sebuah perjalanan yang dimulai dengan doa, dikuatkan oleh restu keluarga, dan dijalani dengan harapan untuk selalu menjaga kerukunan dalam setiap langkah bersama.









Discussion about this post