Turnamen ini menjadi bagian dari upaya menjaga eksistensi olahraga tradisional khas Dayak di tengah derasnya pengaruh modernisasi. Selain sebagai hiburan rakyat, kegiatan ini juga sarat nilai budaya dan kearifan lokal.
Sebanyak 80 peserta dari berbagai desa di Kabupaten Bulungan turut ambil bagian, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap olahraga tradisional yang mengandalkan ketepatan dan konsentrasi tersebut.
Dalam sambutannya, Ingkong Ala menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai identitas daerah.
“Melalui turnamen ini, kita tidak hanya berkompetisi, tetapi juga merawat budaya agar tetap hidup dan dikenal generasi penerus,” ujarnya.
Ia menilai, menyumpit bukan sekadar keterampilan, melainkan simbol ketangkasan serta bagian dari jati diri masyarakat Kalimantan Utara yang perlu terus dilestarikan.
Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi ruang edukasi budaya sekaligus memperkuat rasa kebanggaan masyarakat terhadap tradisi lokal.
Selain itu, turnamen sumpit juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antarwarga dari berbagai desa, sejalan dengan semangat kebersamaan dalam pesta panen.
Pesta panen sendiri merupakan tradisi tahunan yang menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang diperoleh, sekaligus momentum memperkuat nilai sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.
“Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan menjadi sarana menjaga budaya serta mempererat persatuan masyarakat,” tutupnya. (dkisp)












Discussion about this post