MALINAU — Hutan Kalimantan menyimpan banyak satwa yang jarang terlihat manusia. Salah satunya Kucing Merah Kalimantan atau Catopuma badia, kucing liar endemik Borneo yang keberadaannya hingga kini masih menyimpan banyak misteri.
Satwa ini memiliki sejumlah nama, antara lain Kucing Merah, Kucing Kalimantan dan Bornean Bay Cat. Dalam literatur ilmiah, spesies ini juga dikenal dengan nama Pardofelis badia.
Kucing Merah hanya ditemukan secara alami di Pulau Borneo. Dibandingkan sejumlah jenis kucing liar lain yang hidup di habitat yang sama, satwa ini tergolong sangat jarang dijumpai. Minimnya catatan pengamatan membuat keberadaannya sulit dipelajari secara menyeluruh.
Wikipedia mencatat Kucing Merah sebagai satwa dengan status Endangered atau terancam punah. Spesies ini diperkirakan memiliki jumlah individu dewasa yang rendah dan populasinya menghadapi tekanan akibat kehilangan habitat.
Secara fisik, Kucing Merah memiliki tubuh yang relatif kecil. Panjang tubuhnya tercatat sekitar 49,5 hingga 67 sentimeter, sementara ekornya dapat mencapai lebih dari 30 sentimeter.
Warna bulunya menjadi ciri khas. Tubuh bagian atas umumnya berwarna merah kecokelatan atau cokelat kemerahan, sedangkan bagian bawah tubuh berwarna lebih pucat.
Ekornya panjang dan meruncing. Bagian kepala berbentuk pendek dan membulat dengan telinga kecil berbentuk bundar. Matanya berwarna kekuningan, sementara terdapat pola gelap di sekitar bagian kepala dan wajah.
Namun, bukan penampilannya yang membuat Kucing Merah begitu menarik perhatian. Satwa ini dikenal sangat sulit ditemukan.
Kucing Merah cenderung hidup menyendiri dan menghindari manusia. Habitatnya berupa kawasan hutan dengan kondisi yang relatif alami. Karena perilakunya yang tertutup dan populasinya yang rendah, keberadaan satwa ini lebih sering diketahui melalui kamera jebak.
Catatan sejarah menunjukkan betapa langkanya kucing liar tersebut. Bahkan dalam berbagai survei menggunakan kamera jebak, kemunculannya tergolong sangat sedikit dibandingkan satwa liar lainnya.
Habitat Kucing Merah juga tersebar di berbagai tipe hutan Borneo, mulai dari hutan dataran rendah hingga kawasan perbukitan. Sejumlah catatan menunjukkan spesies ini juga pernah ditemukan di sekitar kawasan perairan dan hutan rawa.
Sebagai predator kecil, Kucing Merah diperkirakan memangsa berbagai hewan berukuran kecil, seperti mamalia kecil, burung, reptil dan jenis hewan lainnya.
Ancaman terbesar bagi keberadaannya berkaitan dengan kondisi habitat. Hilangnya kawasan hutan dapat mempersempit ruang hidup satwa yang sejak awal memiliki persebaran terbatas tersebut.
Di tengah minimnya informasi mengenai satwa ini, setiap dokumentasi memiliki nilai penting. Salah satunya ketika Kucing Merah kembali terekam kamera jebak di wilayah Resor Mentarang Tubu, Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.
Rekaman tersebut menjadi catatan kedua dalam beberapa tahun terakhir di kawasan TNKM. Sebelumnya, satwa yang sama terekam di Resor Sungai Bahau pada 2023. Keberadaan Kucing Merah di TNKM juga pernah tercatat sekitar 2003.
Bagi pengelola kawasan konservasi, rekaman kamera jebak menjadi cara penting untuk mengetahui keberadaan satwa yang nyaris tidak pernah terlihat secara langsung.
Kemunculan kembali Kucing Merah tidak serta-merta berarti populasinya meningkat. Namun, rekaman tersebut memberikan bukti bahwa spesies langka ini masih menggunakan kawasan hutan TNKM sebagai habitatnya.
Bagi hutan Kalimantan, keberadaan Kucing Merah menjadi bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati yang perlu terus dijaga. Satwa kecil yang jarang terlihat itu mungkin hanya melintas beberapa detik di depan kamera.
Tetapi dari beberapa detik itulah, manusia mendapatkan informasi penting tentang kehidupan liar yang berlangsung jauh di dalam belantara Borneo. (*)












Discussion about this post