JAKARTA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut membutuhkan langkah yang lebih dari sekadar memadamkan api di permukaan. Polri kini memperkuat strategi dengan teknologi dan inovasi untuk memastikan bara yang tersembunyi di bawah tanah ikut dituntaskan.
Salah satu inovasi yang diterapkan Polda Kalimantan Selatan adalah metode Gambut Injection. Teknologi ini digunakan untuk menjangkau bara yang masih berada di dalam lapisan gambut meski kobaran api di permukaan telah berhasil dipadamkan.
Karakteristik lahan gambut membuat penanganan karhutla menjadi lebih kompleks. Api dapat merambat dan bertahan di bawah permukaan sehingga tidak selalu terlihat secara kasatmata. Bara tersebut bahkan berpotensi kembali memunculkan titik api.
Untuk mendeteksi keberadaan panas tersembunyi, petugas memanfaatkan drone thermal. Perangkat tersebut membantu memetakan titik-titik panas yang kemudian menjadi lokasi penyuntikan cairan pemadam.
Cairan yang digunakan berasal dari konsentrat surfaktan yang dicampur dengan air. Cairan tersebut kemudian disuntikkan ke dalam lapisan gambut hingga kedalaman sekitar dua meter untuk menjangkau sumber panas.
Kapolda Kalimantan Selatan Irjen Pol. Dr. Rosyanto Yudha Hermawan, S.I.K., S.H., M.H., turun langsung memantau penanganan karhutla pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Dalam pengecekan tersebut, Kapolda bersama Wakapolda dan pejabat utama Polda Kalsel menyusuri jalur dari Pos BPBD Tegal Arum menuju pos pemantauan karhutla di Pengayuan, Banjarbaru.
Pengecekan dilakukan untuk memastikan kondisi titik api, kesiapan personel dan peralatan, sekaligus mengantisipasi kemungkinan api kembali muncul.
Saat berada di sekitar kawasan Bandara Syamsuddin Noor, petugas menemukan kebakaran di sisi jalan. Kapolda langsung mengecek kondisi lapangan dan melihat kemungkinan masih adanya bara yang bertahan di dalam lapisan gambut.
Kendaraan AWC dan kendaraan khusus karhutla Satbrimob Polda Kalsel kemudian dikerahkan ke lokasi. Pemadaman dilakukan secara bersama-sama dengan BPBD dan relawan.
Untuk wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat, pemadaman juga diperkuat dengan operasi water bombing menggunakan helikopter BPBD Kalimantan Selatan.
Setelah api permukaan berhasil dikendalikan, petugas tidak langsung menghentikan penanganan. Pemeriksaan menggunakan drone thermal dilakukan untuk memastikan tidak ada sumber panas yang masih bertahan di bawah permukaan.
Metode Gambut Injection kemudian diterapkan pada titik yang terdeteksi panas. Hasil pengujian menunjukkan suhu bara yang sebelumnya mencapai sekitar 130 derajat Celsius dapat ditekan hingga sekitar 30 derajat Celsius.
Asap dari titik tersebut juga menghilang dalam waktu kurang dari dua menit.
Bidlabfor Polda Kalsel sendiri telah memproduksi sekitar 3.000 liter konsentrat surfaktan. Jumlah tersebut dapat dicampurkan dengan sekitar 300.000 liter air untuk mendukung penanganan karhutla.
Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko menegaskan bahwa penanganan karhutla harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk terhadap sumber bara yang berada di bawah permukaan tanah.
Ia menekankan pentingnya setiap Kapolda di wilayah terdampak untuk turun langsung ke lapangan, mengerahkan seluruh kekuatan yang tersedia dan memanfaatkan berbagai metode penanganan.
Pendekatan tersebut tidak hanya berorientasi pada pemadaman api yang terlihat, tetapi juga memastikan bara di bawah permukaan benar-benar berhenti agar kebakaran tidak kembali terjadi.
Selain teknologi, Polri terus memperkuat kolaborasi dengan BPBD, pemerintah daerah, relawan, dunia usaha dan masyarakat. Sinergi dilakukan mulai dari deteksi dini, patroli, pemadaman, pendinginan, pemantauan titik panas hingga upaya pencegahan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Polri meningkatkan kecepatan dan ketepatan penanganan karhutla, terutama di wilayah dengan karakteristik lahan gambut yang rawan menyimpan bara di bawah permukaan.(*)












Discussion about this post