NUNUKAN – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara terus menunjukkan komitmennya dalam membangun pendidikan hingga ke wilayah perbatasan. Gubernur Kaltara, Zainal A. Paliwang, meresmikan Unit Sekolah Baru (USB) dan sarana pendukung di empat sekolah di Kabupaten Nunukan, Senin (25/5).
Peresmian dipusatkan di SMA Negeri 3 Nunukan dengan agenda penandatanganan prasasti dan pemotongan pita sebagai simbol dimulainya pemanfaatan fasilitas pendidikan tersebut.
Empat sekolah yang diresmikan meliputi SMA Negeri 3 Nunukan, SMA Negeri 1 Sei Menggaris, SMK Negeri 1 Sembakung Atulai dan SLB Negeri Nunukan dengan total nilai pembangunan mencapai Rp24,4 miliar, yang bersumber dari dana revitalisasi dan APBD.
Dalam sambutannya, Zainal menekankan bahwa pembangunan sektor pendidikan merupakan investasi penting dalam menciptakan generasi unggul Kalimantan Utara.
Menurutnya, anak-anak di wilayah perbatasan harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan fasilitas belajar yang memadai.
“Pemerintah hadir untuk memastikan tidak ada anak-anak kita yang tertinggal dalam memperoleh pendidikan yang layak,” ujar Zainal.
Ia menilai peningkatan kualitas pendidikan menjadi salah satu langkah penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia menghadapi persaingan di masa depan.
Dari total anggaran yang dikucurkan, SMA Negeri 3 Nunukan memperoleh porsi terbesar sebesar Rp11,49 miliar untuk pembangunan delapan ruang belajar, ruang guru, kantor dan fasilitas pendukung lain dengan kapasitas hingga 312 siswa.
Kemudian SMA Negeri 1 Sei Menggaris menerima anggaran Rp2,53 miliar untuk pembangunan ruang kelas dan kantor sekolah.
Sementara SMK Negeri 1 Sembakung Atulai mendapat alokasi Rp3,22 miliar guna membangun ruang praktik agribisnis, laboratorium IPA dan fasilitas sanitasi.
Adapun SLB Negeri Nunukan menerima dukungan Rp7,16 miliar untuk penguatan pendidikan inklusif melalui pembangunan 17 ruang kelas, perpustakaan, ruang terapi, ruang pembelajaran khusus hingga asrama siswa.
Selain infrastruktur, gubernur juga menyoroti capaian pendidikan di Nunukan. Ia menyebut Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah atas telah mencapai 96,92 persen. Namun, Angka Partisipasi Murni (APM) masih berada di angka 68,62 persen.
“Ini menunjukkan masih ada anak-anak yang belum mengakses pendidikan tepat waktu karena berbagai kendala. Kita berharap fasilitas baru ini bisa menjadi solusi,” katanya.
Ia berharap sekolah-sekolah yang telah diresmikan dapat menjadi pusat peningkatan kualitas pendidikan di wilayah perbatasan sekaligus mendukung terwujudnya generasi emas Indonesia tahun 2045.(*)









Discussion about this post