Mengusung tema “PITOELAS”, SBC ke-17 tidak hanya menghadirkan parade kostum spektakuler, tetapi juga membawa pesan tentang kolaborasi dan kekuatan produk lokal. Kostum yang dikenakan Astrid menjadi simbol keberagaman hasil karya UMKM dari berbagai wilayah di Surakarta.
Berbagai unsur khas daerah dituangkan dalam detail kostum. Ornamen berbahan shuttlecock dari Serengan disulap menjadi aksesori artistik pada bagian kepala. Struktur kostum memanfaatkan inspirasi konstruksi sangkar burung dari Mojosongo, sementara elemen ukiran kayu khas sentra mebel Banjarsari memperkuat nuansa etnik dan tradisional.
Tak hanya itu, identitas Kota Solo sebagai kota batik turut ditampilkan melalui penggunaan Batik Truntum khas Laweyan yang menjadi bagian utama desain kostum. Motif bunga pada gaun juga menggambarkan kreativitas pelaku usaha lukis kain lokal.
Kostum “PITOELAS” merupakan gabungan dari tiga defile yang menggambarkan perjalanan dan kekuatan ekosistem UMKM Solo, mulai dari kerajinan tangan, industri rumah tangga, hingga produk kreatif berbasis budaya.
Astrid mengatakan, SBC bukan hanya agenda hiburan, melainkan bentuk nyata keberpihakan terhadap ekonomi masyarakat kecil dan pelestarian budaya daerah.
“Ini adalah bukti nyata semangat pitulungan lan welas. Kita saling membantu dengan membeli dan mempromosikan produk tetangga sendiri, serta memiliki rasa asih terhadap warisan leluhur. Mari kita gerakkan ekonomi kerakyatan,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat semakin bangga menggunakan produk lokal sebagai bentuk dukungan terhadap pertumbuhan usaha kecil di Kota Solo.
“Pakai produk Solo, bangga dengan karya IKM Surakarta. Karena kemajuan kota dimulai dari dukungan kita terhadap usaha kecil di sekitar kita,” tambahnya.
Grand Final Solo Batik Carnival 2026 akan digelar pada 11 Juli 2026 mendatang. Parade akan berlangsung dari kawasan Stadion Sriwedari menuju Balaikota Surakarta melalui Jalan Slamet Riyadi dengan menampilkan kostum batik khas Kota Solo yang megah dan penuh kreativitas. (*)









Discussion about this post